Adstera

Powered By Blogger

Sunday, 24 April 2022

Legenda jaka tingkir

 




Sejarah jaka tingkir dan arya panangsang



Sepeninggal Raden Patah, kerajaan Demak dipenuhi dengan kekisruhan dan intrik-intrik kekuasaan. Anak sulung Raden Patah, yaitu Dipati Unus, meninggalkan kerajaan dan memilih memerangi Portugis di Malaka. Pemerintahan diserahkan kepada Raden Trenggana, adiknya, anak ketiga Raden Patah. Anak kedua Raden Patah, yaitu Pangeran Suryawiyata / Pangeran Sekar Seda Lepen, telah lebih dulu meninggal karena dibunuh. Dipati Unus pun akhirnya gugur di medan perang tanpa meninggalkan ahli waris. Sultan Trenggana sendiri pun akhirnya gugur juga ketika memimpin serangan penaklukkan ke wilayah Panarukan, Jawa Timur.

Setelah wafatnya Sultan Trenggana, maka putra sulung Sultan Trenggana, yaitu Pangeran Prawata atau Sunan Prawata, terpilih sebagai penggantinya. Tetapi kemudian Sunan Prawata pun mati dibunuh. Walaupun tidak tampak di permukaan, setelah wafatnya Sultan Trenggana, dalam birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata Demak sudah terpecah ke dalam dua kubu. Kubu pertama mendukung Sunan Kudus dengan Jipang Panolan-nya. Sedangkan kubu kedua mendukung Jaka Tingkir atau Adipati Adiwijaya dengan Pajang-nya. Pendukung Sunan Kudus adalah mereka yang berhaluan keras, yang memiliki misi untuk membangun suatu kekhalifahan Islam di Jawa yang dipimpin oleh para Wali, yang terkenal sebagai aliran Islam putihan. Sedangkan pendukung Jaka Tingkir adalah mereka yang dulu mendukung Sultan Trenggana dan para pembesar dan bangsawan di bekas wilayah Majapahit di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tidak mau tunduk kepada Demak dan mereka juga membentengi diri, tidak mau termakan kelicikan para Wali yang ingin memaksakan kekuasaan dengan membawa-bawa nama agama. Walaupun mereka tidak berada di bawah kekuasaan Jaka Tingkir dan Pajang, tetapi mereka siap mengirimkan bantuannya kapan saja jika diminta.

Mereka merapatkan barisan di belakang Jaka Tingkir, putra Ki Ageng Pengging yang sangat mereka hormati, dan berharap kejayaan Majapahit akan kembali berkibar. Di pihak Sunan Kudus, Raden Arya Penangsang, putra Pangeran Suryawiyata, telah dipersiapkan sebagai pemimpin perang kubu Putihan. Arya Penangsang tumbuh menjadi seorang pemuda yang sakti ahli olah kanuragan di bawah bimbingan Sunan Kudus dan orang-orang sakti lainnya. Nama Arya Penangsang sangat ditakuti, karena keras perangainya dan tingginya kesaktiannya. Arya Penangsang adalah putra dari Pangeran Suryawiyata yang merasa berhak mewarisi tahta, yang diangkat anak dan murid oleh Sunan Kudus dan sudah menjadi Adipati di Jipang Panolan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi pada kesaktiannya dan keris saktinya Setan Kober, dan dukungan Sunan Kudus di belakangnya, Raden Arya Penangsang diam-diam membunuhi orang-orang yang berhubungan dengan hak tahta kerajaan Demak, sebagiannya juga karena ia ingin membalaskan dendam atas kematian ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen.

 Pembunuhan-pembunuhan oleh Raden Arya Penangsang terutama ditujukan untuk menumpas habis keturunan Sultan Trenggana sampai kepada menantu-menantunya. Bahkan pembunuhan terakhir dilakukan oleh Arya Penangsang terhadap Sunan Prawata sang Raja Demak dan permaisurinya. Bahkan Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawata, sepulang dari Kudus, setelah gagal mendapatkan keadilan dari Sunan Kudus, sehubungan dengan pembunuhan kakaknya itu oleh Arya Penangsang, bersama suaminya pun diserang oleh para prajurit suruhan Arya Penangsang. Suaminya dan para pengawalnya tewas terbunuh. Untungnya, ia sendiri berhasil meloloskan diri. Situasi politik Demak semakin memanas. Bahkan beberapa daerah telah diserang oleh Jipang Panolan dan yang berhasil ditaklukkan, dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Jipang Panolan. Jipang Panolan rupanya ingin menduduki tahta Kesultanan Demak atau ingin mendirikan sebuah kesultanan baru yang lepas dari Kesultanan Demak Bintara.

Jaka Tingkir yang telah menjadi menantu Sultan Trenggana dan menjadi Adipati Pajang (Adipati Adiwijaya), juga menjadi sasaran pembunuhan. Raden Arya Penangsang mengutus 4 orang prajurit khusus andalannya, yang sakti dan belum pernah gagal menjalankan tugasnya sebagai pembunuh gelap untuk membunuh Jaka Tingkir. Sesampainya di keraton Pajang, setelah sebelumnya menyirep para penjaga istana, keempat orang itu berhasil masuk ke dalam tempat tidur Jaka Tingkir yang baru saja tidur. Mereka menusuk Jaka Tingkir dengan keris Kyai Setan Kober bekal khusus dari Arya Penangsang. Tetapi ternyata Jaka Tingkir tidak mempan ditusuk, meskipun telah berkali-kali ditusuk dengan keris tersebut. Walaupun dalam kondisi tidur, kesaktian ilmu Lembu Sekilan Jaka Tingkir selalu melindunginya, karena sudah matang dan sempurna menyatu dengan dirinya. Ketika mereka sedang berusaha keras membunuh Jaka Tingkir, muncullah 2 orang pengawal khusus istana kadipaten yang berhasil lolos dari serangan sirep dan membuntuti mereka.

Maka terjadilah pertarungan antara mereka di dalam ruang tidur tersebut. Karena kegaduhan yang terjadi, terbangunlah Jaka Tingkir. Hanya dalam segebrakan saja keempat orang pembunuh gelap itu sudah jatuh terkapar. Jaka Tingkir menyita keris Kyai Setan Kober. Keempat orang pembunuh itu diperintahkannya pulang kembali kepada Raden Arya Penangsang dengan pesan supaya Arya Penangsang mengambil sendiri keris Kyai Setan Kober miliknya di Pajang. Kegagalan para pembunuh gelap tersebut telah membuat marah besar sekaligus malu bagi Arya Penangsang, terutama karena kerisnya ada di tangan Jaka Tingkir, disita, sehingga ia tidak dapat lagi menyembunyikan rahasia usaha pembunuhan tersebut. Bagaimana pun juga semua orang sudah tahu bahwa Jaka Tingkir adalah orang keturunan Majapahit yang tua-tua dan saudara-saudaranya sudah habis dibunuhi. Jaka Tingkir harus dilenyapkan untuk mengamankan jalannya ke tahta Demak.

Tetapi Jaka Tingkir terkenal sebagai menantu Sultan Trenggana yang kesaktiannya sangat tinggi dan dari sekian banyak perkelahian dan pertarungan, belum pernah sekalipun ia terkalahkan. Bagaimana lagi cara yang harus dilakukan untuk membunuh Jaka Tingkir, sedangkan keris Kyai Setan Kober andalannya, pusaka milik Sunan Kudus yang telah diwariskan kepadanya, pusaka yang paling sakti di daerahnya, tidak mampu membunuhnya, melukai saja tidak. Malah sekarang berada di tangan Jaka Tingkir. Keris Kyai Setan Kober adalah sebuah keris ciptaan seorang empu jawa di jawa barat. Keris yang dibuat sangat sakti, walaupun tidak sesakti sepasang keris pusaka kerajaan Demak, keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi kesaktiannya sudah cukup sulit untuk dicari tandingannya. Sebuah keris yang ditujukan untuk dimiliki oleh seorang pemimpin daerah sebagai sarana tolak bala, dan mengamankan wilayahnya dari adanya gangguan mahluk halus atau pun serangan gaib.

Keris yang berwatak keras, berhawa panas dan angker menakutkan, membuat merinding siapapun yang melihatnya. Kasus kegagalan Arya Penangsang tersebut juga membuat Sunan Kudus menjadi khawatir dan cemas. Bagaimana kalau Jaka Tingkir datang untuk menuntut balas ? Siapa yang mampu menghadapi ? Sunan Kudus tak habis pikir betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Adiwijaya itu sampai-sampai keris Kyai Setan Kober pun tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun. Arya Penangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang, karena sudah kepalang basah. Daripada diserang duluan oleh Pajang, lebih baik menyerang duluan.

Namun Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi, masih ada satu siasat untuk memancing Adipati Adiwijaya keluar untuk dimusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya, agar semakin mudah membunuhnya. Siasat dilaksanakan. Sunan Kudus dengan didampingi Sunan Bonang, mengundang Jaka Tingkir untuk dipertemukan dengan Arya Penangsang untuk upaya perdamaian. Tempat dan waktunya sudah mereka atur. Sunan Kudus sudah menyiapkan 2 tempat duduk dari batu. Sunan Kudus mewanti-wanti supaya Arya Penangsang tidak duduk di batu di sebelah kanannya, karena batu itu batu keramat, sengaja diambil dari sebuah candi dan akan melunturkan kesaktian siapapun yang duduk di atasnya. Batu itu disediakan untuk Jaka Tingkir supaya semua ilmu kesaktiannya luntur.

Tetapi pada saat datang ke tempat pertemuan tersebut, Jaka Tingkir sudah mengetahui lewat rasa batinnya bahwa batu yang akan didudukinya mengandung suatu energi gaib negatif yang kuat. Sekalipun kegaiban batu itu masih belum cukup kuat untuk berpengaruh kepadanya, tetapi ia tidak mau begitu saja termakan kelicikan mereka. Jaka Tingkir menolak untuk duduk sekalipun berkali-kali dipersilakan duduk, sampai-sampai Arya Penangsang pun mengejeknya karena dianggap takut duduk di batu tersebut. "Silakan saja kamu yang duduk disitu kalau berani ! ", begitu kata Jaka Tingkir kepada Arya Penangsang. Karena malu hati termakan oleh omongannya sendiri, akhirnya dengan menutup-nutupi kekhawatirannya, Arya Penangsang pindah duduk di batu tersebut. Sesaat duduk di batu tersebut terasa oleh Arya Penangsang bahwa ada energi dingin yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya dan terasa kekuatannya melemah, terhisap hilang ke dalam batu itu.

Kegaiban batu itu telah bekerja kepadanya. Para Sunan pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena terlanjur sudah terjadi. Jaka Tingkir datang memenuhi undangan tersebut dengan membawa keris Kyai Setan Kober sitaannya. Di hadapan Arya Penangsang dan Sunan Bonang, Jaka Tingkir menyerahkan keris tersebut kepada Sunan Kudus, sebagai bukti perbuatan jahat Arya Penangsang kepadanya. Kemudian sambil mengucapkan banyak nasehat, Sunan Kudus menyerahkan keris tersebut kembali kepada Arya Penangsang. Tetapi Arya Penangsang adalah seorang yang tinggi hati. Sudah terlanjur malu, ia tidak mau begitu saja menerima dirinya dipersalahkan. Sambil menghunus Setan Kober kerisnya ia menantang perang kepada Jaka Tingkir. "Perselisihan harus diselesaikan secara laki-laki ! ", begitu katanya. "Kalau aku sendiri yang menusukkan keris ini ke tubuhmu, belum tentu kamu masih akan bisa sombong". Secara refleks Jaka Tingkir juga mencabut kerisnya, berdiri siap bertarung dengan kerisnya di tangan kanannya.

Tetapi Sunan Kudus dan Sunan Bonang cepat-cepat melerai mereka dan memerintahkan Arya Penangsang menyarungkan kembali kerisnya. Akhirnya mereka masing-masing pulang dengan tidak ada perdamaian di antara mereka. Untunglah pada saat itu Arya Penangsang mau menyarungkan kerisnya. Kalau tidak, pastilah sudah tamat riwayatnya. Kesaktian Jaka Tingkir masih terlalu tinggi. Kesiuran pancaran hawa energi kesaktiannya terasa sekali ketika ia refleks mencabut kerisnya dan siap bertarung dengan keris di tangan kanannya. Jika sampai terjadi pertarungan, semua yang hadir disitu tidak ada yang mampu menahannya. Apalagi ternyata keris yang ada di tangan Jaka Tingkir adalah Kyai Sengkelat, keris yang jauh lebih sakti dibandingkan Kyai Setan Kober dan semua pusaka yang ada di Demak saat itu. Bersama keris Kyai Sengkelat di tangan Jaka Tingkir, yang entah darimana didapatkannya, telah menjadikan Jaka Tingkir seorang yang pilih tanding.

Perpaduan wahyu keris yang telah menyatu dengan pribadi Jaka Tingkir telah menjadikan efektivitas wahyu keilmuan dan wahyu spiritual yang telah ada pada dirinya berlipat-lipat ganda pengaruhnya. Jaka Tingkir dipenuhi dengan ilham untuk memperdalam, juga untuk menciptakan ilmu-ilmu baru. Ditambah lagi ia juga mewarisi ilmu-ilmu tua jaman Singasari dan Majapahit. Ketika telah matang usianya Jaka Tingkir menjadi salah seorang manusia sakti yang sulit sekali dicari tandingannya. Keris Kyai Sengkelat telah menemukan pasangannya, seorang manusia berpribadi ksatria dan berbudi pekerti tinggi yang sejalan dengan pribadi wahyu keris tersebut, yang juga memiliki wahyu raja di dalam dirinya, sesuai perkenan Dewa. Setelah kejadian itu Sunan Kudus memerintahkan Arya Penangsang untuk bertapa dan berpuasa 40 hari untuk memulihkan kembali kesaktiannya dan juga untuk ditambahkan dengan ilmu-ilmu baru yang lebih tinggi lagi.


Tidak ada komentar:

Legenda jaka tarub

 



Legenda jaka tarub


legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.









Legenda Jaka Tarub memiliki banyak versi, namun versi yang "standar", sebagaimana tertera pada Babad Tanah Jawi, memiliki alur sebagai berikut.

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.





Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.

Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.

Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian
menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub ("pemuda dari Tarub"). Setelah dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti Mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa - sebagian atau seluruhnya - sejak abad ke-17 hingga sekarang. Menurut sumber masyarakat di desa Widodaren, Gerih, Ngawi, peristiwa ini terjadi di desa tersebut. Sebagai bukti masyarakat setempat percaya karena terdapat petilasan makam Jaka Tarub di desa tersebut. Rata-rata masyarakat setempat yang sudah lanjut usia tahu jalan cerita Jaka Tarub dengan 7 bidadari. Nama desa Widodaren itu dipercayai masyarakat setempat berasal dari kata widodari yang berarti dalam bahasa Indonesia adalah bidadari. Di desa ini juga terdapat sendang yang konon dulu adalah tempat para bidadari mandi dan Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari

Babad Tanah Jawi adalah naskah sejarah Kesultanan Mataram. Pemberitaan tentang Panembahan Senapati dan para penggantinya memang mendekati fakta sejarah. Akan tetapi kisah-kisah sebelum Panembahan Senapati cenderung bersifat khayal, terutama seputar Kerajaan Majapahit.

Ada yang berpendapat, Kesultanan Mataram didirikan oleh keluarga petani, bukan keluarga bangsawan. Oleh karena itu, demi mendapat legitimasi dan pengakuan dari rakyat Jawa, diciptakanlah tokoh-tokoh mitos yang serba istimewa sebagai leluhur raja-raja Mataram.

Dalam hal ini, tokoh Nawangsih yang dinikahi Bondan Kejawan disebut sebagai wanita istimewa. Nawangsih merupakan anak campuran antara manusia dan bidadari. Kisah ini mengingatkan pada tokoh Ken Arok dalam Pararaton. Pihak Majapahit juga ingin menunjukkan bahwa leluhur mereka, yaitu Ken Arok adalah manusia istimewa setengah dewa.

Tidak ada komentar:

Asal usul orang sunda

 



Asal usul orang sunda

“Ada beberapa teori tentang dari mana asal orang-orang Nusantara datang? Dari Yunan China Selatan?, Atau Dari Persia, Iran Utara? Atau yang dari utara ini cuma arus balik mudik pulang kampung warga Sundaland ke tanah airnya yang sejati Puluhan ribu tahun yang lalu (antara 200.000 sd 75.000 tahun yang lalu sebelum Ledakan Supervulcano Gunung Toba dan Karakatau) ?? Hi[potesi di bawah ini, mirip dengan argumen hipotetis yang dikemukankan oleh salah seorang peneliti Melayu dari Malaysia, Al-Semantani.”  (Ahmad Y. Samantho)

Fakta sejarah ?

Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang
Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).
Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).
Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). آ Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat “sesembahan” orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi â€کsesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya.
Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem “sesembahan” yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.
Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau â€کmaung’, tapi â€کsima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.
Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan â€کtata – subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongoâ€‌ fungsinya sebagai â€کmnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.
Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?
Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).
Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf â€کhunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.
Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba â€کtrappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?
Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.
Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis — yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol — ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.
Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.

Tidak ada komentar: