Adstera

Powered By Blogger

Tuesday, 21 July 2026

Dalam rangkulan sibiru




“Tapi dengan bertahannya lo, gue jadi memiliki peran ja hat di sini,” ungkap Kanaya.


“Lalu saya harus bagaimana?”


Kanaya terdiam, pertanyaan Sabiru membuat d* da nya sesak.  


"Lo harus cari kebahagiaan lo sendiri!" ucap Kanaya Kemudian. 


"Saya sudah bahagia kok. Emang saya kelihatan tidak bahagia ya?" tanya Sabiru. 


"Bahagia dari mana?" tanya balik Kanaya dengan nada tidak percaya. "Lo hidup dengan wanita yang gak berguna, yang gak pernah punya effort layaknya istri pada suami. Lo jelas capek dan bahkan mungkin hidup lo lebih se ng sa ra dengan hadirnya gue."


"Hidup saya tidak se ng sa ra, apalagi dengan hadirnya kamu di hidup saya membuat saya lebih semangat menjalani hidup." Kalimat sederhana yang membuat ra ha ng Kanaya mengeras. 


"Gue bukan anak kecil yang bisa lo ke la bu hi dengan kalimat penenang seperti itu."


"Saya tidak meng ke la bu hi kamu, tapi kenyataannya memang seperti itu. Hadirnya kamu, membuat saya semangat bangun pagi untuk menyiapkan makanan. Saya semangat mencari rejeki untuk memberikan hidup yang layak untuk kamu meski tidak mewah. Hidup dengan kamu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Kamu adalah anugerah buat saya," jelas Sabiru. 


"Lo terlalu baik untuk hidup dengan wanita seperti gue, Bi. Gue gak bisa disetarain dengan kesempurnaan yang lo punya."


"Saya tidak sempurna dan saya juga tidak ingin menikahi wanita yang sempurna. Saya menikahi kamu, Nay. Wanita yang memang saya pilih untuk bisa mendampingi hidup saya." Lagi lagi kalimat yang diucapkan Sabiru mampu menggetarkan sesuatu di dalam sana. Rasanya sulit bisa Kanaya artikan. 


"Dengan lo seperti ini, membuat gue semakin merasa bersalah, Bi." Kanaya membuang pandangannya. 


"Saya tidak pernah ada niatan membuat hidup kamu di kelilingi rasa bersalah."


"Gue selalu nyakitin lo, gue selalu bikin lo kecewa, gue bahkan gak bisa bales perlakuan mau pun perasaan lo. Tapi lo tetap aja baik sama gue."


"Iya, saya tahu."


"Lalu?"


"Kalau kamu merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan saya, berhentilah!" ucap Sabiru tenang. 


"Maksudnya?"


"Saya tidak pernah menganggap perasaan saya terhadap kamu sebagai u ta ng yang perlu kamu ba yar." Kanaya mengernyitkan dahinya, tapi tetap mendengarkan penjelasan Sabiru. "Saya mencintai kamu karena mau saya sendiri."


"Yakin lo gak berharap cinta lo terbalaskan?" tanya Kanaya penasaran.


"Bohong kalau saya tidak berharap kamu bisa mencintai saya suatu saat nanti, tapi saya juga sadar diri bahwa hati manusia tidak bisa dipaksa. Untuk saat ini, biarkan saya di sini menemani kamu sampai waktu itu tiba."


"Waktu apa?"


"Takdir Tuhan pada saya dan kamu, entah nantinya bersama atau berpisah." Kanaya menatap Sabiru. Ada hati tidak rela ketika Sabiru mengucapkan kata terakhir pada kalimatnya. 


"Tapi perlu kamu tahu, hari hari saya begitu ber har ga saya lewati bersama kamu, dari pada hidup tanpa kamu. Saya pernah gagal dalam banyak hal dan kehilangan banyak hal. Tapi harapan saya, mencintai kamu bukan salah satunya. Dari semua yang saya perjuangkan dalam hidup, kamu satu satunya yang tidak akan pernah saya sesali," lanjut Sabiru. 


Jantung Kanaya berhenti sejenak, di depannya kini ada lelaki yang memberikan pengakuan ketulusan padanya. Sedangkan selama ini dirinya terus saja mencari cara untuk menjauh. 


"Nay, di saat semua orang tidak ada yang memilihmu, bahkan diri kamu sendiri, tolong pergilah ke saya! Saya akan selalu memilih kamu dalam keadaan apa pun," ucap Sabiru lirih dengan mata yang sudah berkaca kaca. 


Ketika Kanaya merasa dirinya tidak ada artinya, Sabiru menyadarkan bahwa dirinya sangat berharga. 


"Hadeh . . . Kalau gue jadi lo, mungkin gue udah nyerah dari dulu." Kanaya mencoba kembali cuek, agar tidak terlihat lemah di hadapan Sabiru. 


"Untungnya saya bukan kamu, sehingga sampai saat ini saya masih ada di sini."


"Sepercaya diri itu lo dengan apa yang lo lakuin?" tanya Kanaya. 


"Saya tidak percaya diri, hanya saja saya percaya pada pilihan saya."


"Oh ya?" Sabiru mengangguk. 


"Di saat semua orang meragukan hu bu ngan kita dengan alasan mereka masing masing, saya selalu yakin bahwa pilihan saya tepat."


"Udah cukup!" potong Kanaya kemudian. 


"Apanya?"


"Ngobrolnya. Udah malam, besok kerja kan?"


"Iya."


"Ya udah, tidur! Kembali ke kamar masing masing!"


"Kamu marah sama saya?" tanya Sabiru sebelum Kanaya naik tangga. 


"Gue harus marah karena apa?"


"Saya juga tidak tahu, makanya saya tanya kamu."


Kanaya memutar bola matanya. "Gue gak marah, gue ngantuk. Puas?"


Sabiru tertawa kecil melihat tingkah Kanaya.  "Selamat malam, tidur yang nyenyak ya!"


"Hm," jawab Kanaya sambil terus melangkah menaiki anak tangga. Sedang Sabiru masih setia memandangi kepergian Kanaya. Di pertengahan tangga, Kanaya berhenti dan menoleh, "Bi, makasih ya!" ucapnya kemudian. 


"Untuk?" tanya Sabiru. 

Gairah

 Yang dilihat oleh Pak Frans adalah Rangga yang sedang duduk manis di depan laptop sambil mengerjakan pekerjaannya. 



Pak Frans menutup kembali ruang kerja Zeela yang tak biasanya dikunci. Meskipun hati Pak Frans bergumam dengan kejanggalan yang ada, ia coba menepis semua pikiran bur u k sebab mengetahui kalau karyawan barunya-Rangga adalah adik ipar Zeela.


_____

Pov Rangga


****


Sudah saatnya jam istirahat, pasti Zeela sudah menyelesaikan semua kerjaannya.


Aku Rangga Koesmadji, adik dari seorang Andi Koesmadji. Aku baru saja saling bertatap muka dengan iparku sebab saat kakakku dan istrinya menikah aku tidak bisa hadir. 


Aku kuliah di luar kota dan lumayan cukup menguras biaya kalau aku harus pulang, jadi ... Aku memilih untuk tidak hadir dan hanya memberi selamat dan menyaksikan acara pernikahan kakakku lewat video call aku bersama dengan Ibu.


Tapi, saat aku melihat Zeela dari sana. Entah mengapa jan tungku berdebar, kenapa aku memiliki rasa iri pada kakakku sendiri saat ia menikahi wanita secantik Zeela. 


Aku bisa saja tidak pulang setelah aku selesai wisuda dan memilih untuk kerja disini, tapi entah mengapa aku selalu terngiang dengan Zeela. Aku mencari sosial medianya dan aku selalu melihat unggahan fotonya yang memang ia selalu saja menampakkan keindahan tubuhnya dengan pakaiannya yang ketat.


Tubuhnya yang sintal, wajahnya yang bin4l terlihat begitu meng gair ahkan sehingga jant ungku berdebar dan hasr atku menggebu serasa aku ingin memilikinya.


Aku akhirnya memilih pulang, saat kesempatan ada padaku. Mas Andi sakit, dan aku ditawarkan bekerja di tempatnya. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.


.


"Siang Zee... Udah selesai?" Aku menghampiri Zeela yang masih berkutat dengan kerjaannya.


Wajahnya sangat lelah, namun tidak dapat mengalahkan kecantikannya.


Aku sudah bertahun-tahun mengikuti sosial medianya, dan terus memperhatikan iparku itu.


"Belum, Ga, masih banyak!" sahutnya tanpa menoleh.


Ku dekati dirinya dan duduk di atas meja, ia menatapku dan hendak men ce rcaku. Namun sebelum ia bisa bicara mulutnya sudah lebih dulu ku sumpal dengan mulutku.


Sumpal... Iya itulah pokoknya, biar nambah kesan manis di b ibir Zeela.


"Rangga, apa-apaan sih?"


"Aku kangen, Zee."


"Iya... Tapi ini di kantor." tanpa mendengar pen ola kan aku meraih tangannya dan membawanya ke sofa samping meja kerjanya.


Disana aku terus mel anc arkan aksiku, mencivm bi bir Zeela dan terus bermain dengannya.


Tok... Tok... Tok...!


 "Zeela... Ini saya, Frans. Diluar ada suami kamu!" teriak seseorang sambil mengetuk pintu ruangan.


Tok.. Tok...Tok...!


"Zeela, apa kamu ada di dalam?"


"Rangga itu Pak Frans!"


"Sudahlah biarkan aja, lagian ada apa dia kesini? Mengganggu saja!"


Zeela melepaskan diri dari rengkuhanku, ia merapikan kembali pakaiannya. Menggusar rambutnya yang tergerai panjang, dan berlari kecil menuju pintu.


'Ada saja gangguannya, nggak tahu apa orang lagi mesra-mesraan!' rutukku dalam hati.


Aku merapikan kembali pakaianku dan duduk di meja kerjaku sambil mengambil sebuah laporan dan aku kerjakan untuk mengalihkan kekesalanku.


Hanya samar-samar ku dengar obrolan Zeela dan bos kami, namun aku sedikit mendengar jika Mas Andi ada di sini.


"Mau apa Mas Andi kesini? Apa biasanya dia ke sini?" gumamku.


Tidak berselang lama... Zeela datang tapi bersama dengan Mas Andi yang meminta ijin pada bos kami untuk ikut masuk ke ruangan Zeela.


Ah...! Hatiku semakin berdec ak kes al saat aku melihat Mas Andi mera ngk ul Zeela masuk ke dalam ruangan.


"Mas... Kok datang ke kantor? Biasa begini, ya?" tanyaku.


"Tidak, aku hanya ingin saja sesekali berkunjung. Sekalian melihat kamu bekerja. Aku juga sudah memasakkan makan siang untuk kalian berdua." jawab Mas Andi tersenyum ramah. Ia selalu begitu, hampir tak pernah ku lihat di raut wajahnya wajah kes al. Selalu senyum dan sangat ramah tamah.


Sial! Renc ana ku, aku ingin mengajak Zeela makan disebuah kafe. Tapi Mas Andi menggagalkan rencanaku.


Zeela melirikku pelan-pelan, seperti yang tahu persis kalau aku merasa tidak nyaman saat ada Mas Andi di ruang kerja.


Apa lagi Mas Andi tak pernah melepaskan tubuh Zeela dan tetap dirangkulnya. Berbicara saling tatap muka dan bahkan Zeela sesekali mengusap peluh di dahi Mas Andi.


"Kamu kok keringetan, Mas? Padahal ruangannya AC, loh... Kamu pasti kecapean karena maksa kesini." ujar Zeela perhatian pada Mas Andi.


Wajar, sih kalau Mas Andi dapat perhatian dari Zeela, dia kan istrinya. Tapi kenapa merasa aku yang ses ak dan tak terima, aku ingin kalau Zeela menjadi milikku saja.


"Mas, kalau emang belum pulih jangan maksain kesini. Entar kalau kenapa-kenapa gimana? Kan Mbak Zeela juga yang repot." kataku yang membuat Mas Andi menoleh kearahku.


"Iya, sesekali nggak masalah. Aku ingin memberikan perhatian pada istriku." sahutnya.


Ah...! Tak usah! Aku yang akan memperhatikannya. Aku jadi geram sendiri dan men ge pal tanganku dengan kencang dan rasanya ingin ku tonj ok saja wajahnya yang sok tampan itu.


Cih...! Dia sudah tua, walaupun hanya berbeda 5 tahun denganku. Tapi dia masih tampan, aku pun tak kalah tampan dan lebih ga gah dari pada dia. Apa lagi dia sudah pe nyak itan. Aku harus membuat Zeela jatuh cinta padaku dan melupakannya.


"Ooh iya, kamu lagi ada kerjaan ya? Kok jam segini ada di ruangan Zeela?"


Deg!


Cinta terlarang

 



....Suaminya merantau untuk bekerja sehingga kami dengan leluasa menjalin hubungan. Dia begitu baik dan sangat dewasa hingga membuat aku benar-benar menyayanginya. Dan ketika di tempat umum pun aku diperkenalkan sebagai suami....


Sebut saya Andre, status hubunganku saat itu sudah punya pacar. Ada rencana untuk menikah tapi entah kenapa sifatnya yang seperti anak kecil, terlalu memikirkan dirinya sendiri, tidak kreatif, dan juga terlalu menjadikan dirinya sebagai obyek, membuat aku semakin malas dengannya. Segalanya harus aku yang memulai lebih dulu, dan dalam pikiran pacarku saat itu terlalu banyak memikirkan kesenangan daripada masa depan. Hingga akhirnya aku tidak pernah berminat untuk sering bertemu dengannya.



Hingga suatu ketika aku bertemu dengan wanita yang lebih tua 5 tahun dariku. Sebut saja namanya Riska. Aku biasa memanggil dia mbak Riska. Ada sedikit rasa penasaran terhadap kehidupan pribadinya, apalagi keakraban mulai tercipta karena sering bertemu di tempat kerja. Hampir setiap malam aku selalu berkomunikasi dengan mbak Riska.



Dari situ aku tahu bahwa dia sudah memiliki suami yang bekerja di luar kota. Pulang tidak pasti, paling cepat 3 bulan sekali baru pulang, atau mbak Riska yang mengunjungi suami saat libur kerja atau kebetulan ada tugas di kota suaminya bekerja. Tadi karena sudah terlanjur nyaman, aku tidak begitu peduli status pernikahannya. Aku tetap saja terus berkomunikasi dengannya. Dan dengan pacar sendiri justru sering aku abaikan, bahkan sudah tidak ada hasrat sama sekali. Justru dengan mbak Riska, rasa penasaran itu semakin kuat.


Apalagi ada kalanya mbak Riska seperti keceplosan memanggil aku dengan kata sayang, sejak itulah aku mulai semakin penasaran dengan sosok mbak Riska. Kami semakin dekat dan bertambah dekat. Semua hal saling kami ceritakan terkait kondisi masing-masing. Mbak Riska juga tahu siapa pacarku sebenarnya, dan sepertinya dia tidak menaruh rasa cemburu sedikitpun

Luka yg ku pinjam

 Aku sengaja tidak memberitahu orang-orang kampung kalau aku adalah kembaran adikku yang sering mereka hina, semua itu kulakukan karena ingin ….




“Ini sudah tanggal dua puluh, kenapa belum bayar utang juga?” Teriakan seseorang di luar sana membuatku berhenti menikmati tidur siang yang adem ini.


“Saya kan janjinya tanggal dua puluh tiga, Bu Rita. Tiga hari lagi saya lunasi.” Suara adik kembarku, Bunga, terdengar begitu lembut dan menyayat hati.


Dari dulu dia tak pernah berubah, selalu saja bersikap begitu baik, sekalipun pada orang yang menjahatinya.


“Nggak bisa begitu. Tanggal dua puluh tiga itu saya sudah belanja ke kota, kalau masih ada yang ngutang, bangkrut dong warung saya!” 


Duh, Tuhan. Itu wanita jelmaan apa ya kira-kira? Mulutnya berisik melebihi TOA yang sering dipakai demo di Ibu Kota.


“Sekali lagi maaf, Bu. Suami saya belum gajian, kalau ada uang dingin pasti saya lunasin sebelum tanggal dua puluh tiga.”


“Awas ya kalau kamu bohong! Kalau sebelum tanggal dua tiga hutangmu masih belum lunas, nanti saya suruh Bu Wiwin buat ngusir kalian dari kontrakan ini!” teriaknya, aku bisa melihat wanita itu berkacak pinggang tatkala mengintipnya lewat celah gorden berwarna hijau terang ini.


“J-jangan, Bu. Saya janji akan melunasinya.”


“Awas saja kalau bohong, ya! Tahu rasa kamu!” Dia menunjuk wajah adikku dengan semena-mena, mendadak hatiku terasa terbakar.


Selepas kegaduhan itu tak lagi terdengar, aku langsung keluar kamar, menghampiri Bunga yang terlihat kuyu.


“Loh, Teh? Katanya mau tidur siang?” tanya Bunga, aku bisa melihat perubahan ekspresinya yang drastis, walau kutahu dia memaksa bibir itu untuk tersenyum supaya terlihat baik-baik saja.


“Itu siapa, sih, Dek? Mulutnya kok melebihi bakso mercon level se—tan?”


“Hehe, itu Bu Rita, tukanv warung di sini. Maaf, ya, Teh. Waktu istirahatnya jadi terganggu, sekarang Teteh bobo lagi, ya. Perjalanan dari Jakarta ke sini ‘kan sangat lah jauh dan melelahkan.”


Aku menggeleng cepat, “Dek, belum semalam Teteh di sini, udah ada tiga orang yang ngomelin kamu. Yang nyuruh pindahin jemuran, lah. Yang nyuruh ini itu lah, sekarang suruh bayar utang.”


Bunga hanya tersenyum tipis mendengar celotehanku, tapi aku bisa melihat pelupuknya yang basah.


“Jujur, Dek. Semua orang di sini merendahkanmu, ya? Semua orang menghinamu, ya?” tebakku, Bunga menggeleng.


“Jangan bohong, Dek! Aku ini kakakmu, tapi kenapa kamu selalu tertutup sama Teteh? Apa salah Teteh? Kamu itu udah gak punya siapa-siapa lagi, seharusnya kita saling membantu!” tandasku panjang lebar.


Bunga tak menjawab, tapi sejurus kemudian dia menghambur ke pelukanku sembari tersedu-sedu.


“Maafkan Bunga, Teh Putik. Bunga cuma gak mau ngerepotin Teteh. Bunga sudah berumah tangga, malu kalau harus mengadu sama Teteh.”


Aku membiarkannya puas menangis, sebelum akhirnya menatap dia lekat-lekat.


“Dengar, Dek. Mau bagaimana pun kita tetap lah kakak beradik, kita satu darah, satu ibu ayah. Kamu juga tanggung jawabku, karena sampai mati pun kamu tetap adikku. Mengerti?” tanyaku, dia pun menganggguk lalu memelukku kembali.


“Jadi, biarkan Teteh membalas perlakuan-perlakuan orang jahat itu.”


“Teteh mau apa?” tanyanya terlihat polos sambil melepas pelukan.


“Kamu duduk manis saja di rumah, Tuan Putri.” Aku tersenyum lebar, tapi Bunga malah terlihat takut.


***


Pagi sekali, aku berjalan menyusuri kampung Rawabungur dengan berpakaian ala adikku sendiri.


Tentu semua orang akan mengenaliku sebagai Bunga, karena wajah kami sama persis bak pinang dibelah dua. Yang membedakan kami hanya nasib serta tahi lalat di punggung.


“Eh, tumben banget pagi-pagi ke warung, Nga?” sapa seorang wanita berusia sekitar 40 tahun, tangannya nampak sibuk memilih sayuran yang dipajang di bagian depan warung.


“Palingan mau ngutang, beras di rumahmu udah habis lagi, ya?” sahut seseorang lagi membuat ibu-ibu di sana cekikikkan.


Aku tak meladeni mereka, melainkan memanggil Bu Rita untuk menghampiriku.


“Apa, sih, Bunga? Mau ngutang lagi, kamu?” katanya galak.


“Nggak, Bu. Malah mau bayar utang. Sebentar.” Aku mengeluarkan dompet panjang dan sengaja membuka isinya lebar-lebar agar semua orang melihat betapa banyak uang di sana.


“Kemarin utangnya berapa, ya?” 


“L-lima puluh ribu,” ucap Bu Rita.


“Ini, ya. Sejuta.” Aku meletakkan uang dengan kasar ke atas bangku kosong, kulihat semua orang langsung melongo.


“Sisanya buat kalian ya, Ibu-ibu. Kalau uang itu gak bisa beli mulut kalian yang dower, pakai saja buat beli terong!” kataku gemas, tapi mereka semua malah mematung.


Monday, 20 July 2026

Ikhlasnya kiayi jaman dulu

 Ihlasnya Kyai Kyai Dulu



KH. MUHAMMAD THOHIR adalah seorang tokoh agama asal Lampung Barat yang amat disegani dan terkenal pada zamannya. Ilmu agamanya tinggi, karena belajar selama 30 tahun di tanah Arab, yaitu Mekah, Madinah, Mesir, Palestina, dan Baghdad.


Beliau lama berguru pada penerus ulama Syech Abdul Qodir Jaelani, yang banyak mengajarkan ilmu tarekat.

 

Semasa hidupnya, KH. M. Thohir dikenal memiliki pendirian yang keras dan tegas terhadap hukum agama Islam. Meski begitu, beliau dikenal sebagai ulama yang lemah lembut dalam berbicara dan suka memaafkan orang lain.

 

Menurut salah seorang cucu beliau, H. Johan Iskandar TH, mantan ketua PCNU Lampung Barat, kakeknya itu mengajar agama tanpa pamrih, atau tidak pernah memungut bayaran. Semua santri yang berjumlah sekitar 200-an orang tinggal di rumahnya, dan cukup hanya membawa pakaian sehari-hari.


KH. M. Thohir pun mengobati orang sakit dengan berbagai keluhan. Banyak diantara pasiennya itu harus menetap di rumahnya hingga berminggu-minggu sampai sembuh. Semuanya dilakukan tanpa pamrih dan ditanggung semua kebutuhan sehari-hari.

 

Pada tahun 1936, KH. M. Thohir mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama di Menes, Serang, Banten. Ada tiga usulan beliau dalam muktamar tersebut, seperti diungkapkan oleh KH Syukron Makmur, pemimpin pondok pesantren Darul Kalam, Jakarta. Yaitu, pembentukan lembaga pendidikan NU, muslimat NU, dan bank Islam. Usulan terakhir diduga merupakan cikal bakal bank berbasis syariah yang banyak dikenal belakangan ini.


Sepulang dari muktamar tersebut, KH. M. Thohir terlibat dalam pembentukan forum silaturahmi alim ulama, yang merupakan jaringan NU di Lampung. Jaringan inilah yang kelak menjadi organisasi NU di provinsi Lampung, yang ketika itu masih bergabung dalam provinsi Sumatera Selatan.


KH Muhammad Thohir lahir dengan nama Adjma, anak H. Ahmad Khotib, seorang keturunan Banten yang hijrah ke Lampung. Sejak kecil Adjma sudah menunjukkan ketaatannya terhadap ajaran agama Islam. Di kampungnya, Pekon Penengahan, Laai, Krui (yang kini masuk kabupaten Pesisir Barat) Adjma kecil belajar mengaji dan ilmu fiqih.


Ketika berusia 16 tahun, Adjma berangkat ke Mekah untuk melanjutkan pelajaran agamanya dan menunaikan ibadah haji. Di tanah suci ini Adjma mengganti namanya menjadi Haji Muhammad Thohir.


Tak lama di Mekah, M. Thohir berangkat ke Kairo, Mesir, untuk memperdalam ilmu agama di perguruan Al Alzhar. Di sana M. Thohir tinggal di asrama yang disebut Ruwak Jawa yang artinya Asrama Jawa. Dari M. Thohir mengunjungi Masjidil Aqso di Palestina. Beliau lalu menuju Baghdad dan berguru pada penerus Syech Abdul Qoodir Al Jaelani. Semua perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki.

 

Menurut salah seorang sahabat beliau selama di perantauan, KH Abdul Razak–yang berasal dari Penengahan, Way Lima Lampung Selatan– seperti dituturkan pada keluarga M. Thohir, para sahabat kerap tidak bisa mengikuti perjalanan beliau.


KH. M. Thohir suka sekali berziarah di makam nabi-nabi dan wali, terutama di makam Nabi Musa AS. Ketika baru pulang dari Mesir, beliau memiliki batu Musa yaitu batu yang dipukul Nabi Musa dengan tongkat ketika lasykarnya kehausan, yang kemudian mengeluarkan 12 mata air.


Ada lima rekan perjuangan KH M. Thohir ketika menuntut ilmu di tanah Arab. Selain KH. Abdul Razak, ada KH Hasbullah dari Kota Agung Kabupaten Tanggamus, KH Abdullah Syafi’uddin dari Rawa Bangke, Jatinegara Jakarta, KH. Syaim’un dari Citangkil Serang Banten, dan KH. Dahlan Djambek asal Payakumbuh, Sumatera Barat.


Setiba di kampung halamannya, beliau disambut dengan suka cita oleh masyarakat banyak, terutama oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat. KH Thohir menikah dengan seorang gadis bernama Jamilah. Tapi pernikahan itu tidak lama, karena Jamilah meninggal dunia. KH Thohir lalu menikah dengan Fatimah dan mendapatkan tiga anak.

 

KH M. Thohir mulanya mengajar agama di Pekon (Kampung) Balak Way Tegaga, Liwa, Lampung Barat. Beliau lalu diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi guru agama Islam di Kewedanaan Krui. Pola pengajarannya adalah dengan bergiliran dari kampung satu ke kampung lain setiap hari jumat di masing-masing kampung.

 

Pada tahun 1915 beliau bersama-sama dengan anak-anaknya pindah Pekon Way Suluh, Krui, dan membuat sawah. Lalu tahun 1925 beliau mendirikan sebuah rumah di kampung tersebut yang dinamakan “Lamban Pardasuka” yang artinya adalah Rumah Bersama. Di rumah besar inilah para santri yang berasal dari Krui, Liwa, dan Muara Dua, Sumatera Selatan, menetap.


Sejak tahun 1945 beliau sering sakit-sakitan. Namun, dalam keadaan sakit, beliau tepap mengajar, hinggat akhir hayatnya. Beliau wafat pada tanggal 18 Januari 1950 bertepatan dengan tanggal 12 rabiul Awal tahun 1370, dalam dalam usia 90 tahun.


Abu hamid pasuruan

 Kiai Hamid Pasuruan: Kisah Kesabaran, Keteladanan, dan Keikhlasan yang Menggetarkan Hati



Sosok KH Abdul Hamid Abdullah, atau yang akrab disebut Mbah Hamid Pasuruan, dikenal sebagai ulama yang bukan hanya kharismatik, tetapi juga memiliki kesabaran dan kelembutan hati luar biasa. Di balik kewibawaan dan kedalaman spiritualnya, perjalanan hidup Kiai Hamid penuh dengan ujian, duka, dan ketabahan yang jarang diketahui publik.


Menikah Muda dan Menjalani Hidup Sederhana


Di usia 22 tahun, Kiai Hamid menikah dengan sepupunya, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai enam anak satu di antaranya perempuan. Kini, tiga di antaranya masih hidup: H. Nu’man, H. Nasikh, dan H. Idris.


Awal kehidupan rumah tangga Kiai Hamid jauh dari nyaman. Beliau dan istrinya tinggal bersama mertua di rumah sederhana. Untuk menghidupi keluarga, setiap hari beliau mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer pulang pergi menuju Porong, Pasuruan, tempat pasar sepeda berada. Pekerjaan sebagai blantik (perantara jual-beli sepeda) dilakoninya tanpa keluh kesah.


Ujian Rumah Tangga dan Duka Kehilangan Anak


Kesabarannya sebagai suami benar-benar diuji. Menurut penuturan KH Hasan Abdillah, adik Nyai Nafisah, selama dua tahun pertama pernikahan, sang istri “tidak patut” sebuah ungkapan Jawa yang berarti belum bisa akur atau menerima dengan baik. Namun Kiai Hamid menghadapi semuanya dengan ketulusan dan ketabahan.


Duka mendalam menghampiri keluarga muda itu ketika putra pertama mereka, Anas, meninggal dunia. Kiai Hamid bahkan mengajak sang istri ke Bali untuk menghibur hatinya. Tak lama berselang, cobaan kembali datang bayi kedua mereka, Zainab, juga meninggal dunia di usia beberapa bulan.


Kiai Hamid kembali membawa istrinya berlibur untuk meredakan kesedihan. Bahkan, pernah selama empat tahun beliau tidak disapa oleh istrinya. Namun tak sekalipun masyarakat mendengar keluhan darinya. Ia selalu menutupinya rapat-rapat.


Suatu ketika beliau pernah berkata bijak, “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak utawa keluarga, ndak endang munggah derajate.” (Orang tua kalau tidak pernah diuji oleh anak atau keluarganya, maka ia tidak akan naik derajatnya.)


Mendidik dengan Teladan, Bukan Kemarahan


Dalam mendidik anak, Kiai Hamid tidak pernah memarahi atau memukul. Idris, salah satu putranya, mengaku tidak pernah sekalipun mendapat bentakan. Sang ayah lebih memilih memberikan teladan lewat tindakan, bukan kata-kata.


Sikap tawadhu’ menjadi prinsip utama yang sering beliau sampaikan, mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam: “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan).”


Beliau selalu menolak menonjolkan diri, memilih duduk di belakang saat berada di acara atau masjid, dan menghindari melangkahi orang lain demi mencari tempat terdepan.


Kelembutan hati Kiai Hamid begitu nyata. Durrah, menantunya, mengatakan, “Angel dukane, gampang nyepurane.” (Susah marahnya, mudah memaafkannya.)


Jika hendak memarahi anak yang membandel, beliau justru menangis terlebih dahulu hingga akhirnya tidak jadi marah.


Kelembutan untuk Semua, Bahkan untuk Pencuri


Kasih sayangnya tidak hanya untuk keluarga atau santri, tetapi juga untuk orang yang berbuat salah. Pernah suatu malam santri menangkap pencuri di rumahnya. Ketika para santri hendak memukul pencuri tersebut, Kiai Hamid melarang.


Ia bahkan membiarkan pencuri itu pulang dengan aman dan berpesan, “Kalau ada waktu, mampirlah lagi.”


Sikap yang sulit dipahami bagi banyak orang, tetapi menjadi bukti betapa luasnya hati seorang ulama besar ini.


Kisah-kisah hidup Kiai Hamid Pasuruan menjadi warisan teladan tentang kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang yang mendalam.


Sosoknya terus dikenang bukan hanya sebagai ulama kharismatik, tetapi sebagai manusia yang menjalani hidup penuh ujian dengan hati yang selalu jernih dan penuh cinta.


Wali songo


 Menurut penuturan para juru kunci dan tradisi masyarakat Ampel, sembilan makam Mbah Sholeh tidak memiliki nama atau identitas yang berbeda-beda. Semuanya dipercaya sebagai makam Mbah Sholeh yang muncul dan wafat berulang kali, atau menurut pendapat lain sebagai sosok-sosok yang menggantikan perannya. �

Rek Ayo Rek + 1

Urutan yang paling sering diceritakan adalah sebagai berikut:

Makam pertama – Mbah Sholeh pertama kali wafat setelah bertahun-tahun menjadi tukang sapu Masjid Ampel.

Makam kedua – Muncul kembali sosok yang sama, mengabdi, lalu wafat.

Makam ketiga – Kembali hadir untuk membersihkan masjid, kemudian dimakamkan di samping makam sebelumnya.

Makam keempat – Kisah yang sama terus berulang.

Makam kelima – Tetap mengabdi sebagai penjaga kebersihan masjid.

Makam keenam – Wafat dan dimakamkan berjajar.

Makam ketujuh – Masih menjalankan tugas yang sama.

Makam kedelapan – Muncul kembali hingga akhirnya wafat.

Makam kesembilan – Menurut cerita rakyat, setelah Sunan Ampel wafat, Mbah Sholeh juga wafat untuk terakhir kalinya dan tidak muncul lagi. Makam terakhir berada di sisi paling timur deretan makam. �

Kemdikbud Repositori + 1

Yang menarik, tidak ada nisan yang bertuliskan "Mbah Sholeh I, II, III...". Penomoran tersebut hanyalah cara masyarakat menceritakan urutan kisahnya. Secara fisik, yang terlihat adalah sembilan makam berjajar di pelataran timur Masjid Ampel. �

Rek Ayo Rek + 1

Ada pula kisah lain yang sering diceritakan para peziarah, yaitu bahwa Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji (Mbah Bolong) merupakan dua murid yang sangat dekat dengan Sunan Ampel. Mbah Sholeh dikenal karena pengabdiannya menjaga kebersihan masjid, sedangkan Mbah Sonhaji dikenal dengan kisah karamah terkait penentuan arah kiblat Masjid Ampel. �

Rek Ayo Rek

Jika Anda berziarah ke Ampel, saya juga bisa menjelaskan �⁠makam-makam lain di kompleks Sunan Ampel yang dipercaya sebagai makam para keluarga Sunan Ampel, para wali, dan tokoh penting Kerajaan Majapahit yang kemudian memeluk Islam, beserta sejarahnya.