Pria Lansia Asal Bantul Meninggal Dunia Usai Olahraga di Alun-Alun Selatan Yogyakarta
Pria Lansia Asal Bantul Meninggal Dunia Usai Olahraga di Alun-Alun Selatan Yogyakarta
Jogjaterkini.id - Jajaran Polsek Kraton bersama Tim Inafis Polresta Yogyakarta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah seorang pria lanjut usia ditemukan meninggal dunia usai berolahraga di kawasan Alun-Alun Selatan, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Jumat (17/7/2026) pagi.
Kapolsek Kraton AKP Denis Efendi, S.H. mengatakan, laporan mengenai adanya seorang warga yang tidak sadarkan diri diterima sekitar pukul 08.00 WIB. Menindaklanjuti informasi tersebut, personel kepolisian bersama tim medis segera mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan awal.
Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, korban diketahui berinisial Sunarto (74), warga Kanggotan, Pleret, Kabupaten Bantul. Korban datang ke Alun-Alun Selatan bersama sejumlah rekannya untuk menjalani olahraga pagi yang menjadi aktivitas rutin.
Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 06.45 WIB dan melakukan jalan kaki mengelilingi kawasan Alun-Alun Selatan. Setelah menyelesaikan olahraga, mereka beristirahat di sisi timur kawasan tersebut sambil memesan minuman di salah satu angkringan.
Saat sedang duduk bersama rekan-rekannya, yakni N (57) dan A (57), korban tiba-tiba terjatuh dari tempat duduk. Menyadari kondisi tersebut, para saksi segera meminta bantuan kepada Petugas Rescue Kota (PRC) yang kemudian berkoordinasi dengan PMI Kota Yogyakarta untuk memberikan pertolongan.
Petugas kepolisian bersama Tim Inafis Polresta Yogyakarta kemudian melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun indikasi tindak pidana pada tubuh korban.
Informasi yang diperoleh dari pihak keluarga menyebutkan bahwa Sunarto memiliki riwayat penyakit stroke. Dalam beberapa waktu terakhir, korban diketahui rutin menjalani olahraga jalan kaki sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatannya.
Setelah proses identifikasi selesai dilakukan, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga yang diwakili oleh anak korban. Selanjutnya, jenazah dibawa ke rumah duka menggunakan ambulans PMI Kota Yogyakarta.
Keluarga korban menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan tidak mengajukan keberatan atas hasil pemeriksaan awal yang dilakukan petugas.
Kapolsek Kraton AKP Denis Efendi juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi kesehatan sebelum melakukan aktivitas fisik, khususnya bagi warga yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan intensitas olahraga dengan kemampuan tubuh dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, maupun pusing saat beraktivitas. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko terjadinya kondisi darurat kesehatan saat berolahraga.
TAHUKAH KAMU? Dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka, ada seorang pangeran dari tanah Jawa yang berani menantang kekuatan kolonial Eropa di lautan lepas. Namanya adalah Pati Unus — putra mahkota Kesultanan Demak yang kemudian dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor. Tapi, mengapa ia dijuluki demikian? Dan apa hubungannya dengan ekspedisi besar melawan Portugis di Malaka? Yuk, kita telusuri kisah heroik yang nyaris mengubah peta sejarah Nusantara ini!
---
AWAL MULA KONFLIK
Tahun 1511, Malaka — bandar dagang tersibuk di dunia — jatuh ke tangan Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque. Jatuhnya Malaka bukan sekadar kehilangan kota, tetapi juga pukulan telak bagi jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Portugis menguasai selat strategis, membuat kapal-kapal dagang takut melintas karena khawatir dirampas.
Sultan Mahmud Syah yang melarikan diri ke Pulau Bintan pun meminta bantuan kepada kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, termasuk Kesultanan Demak. Dan Demak tidak tinggal diam! Di bawah komando Raden Patah, sang sultan, perlawanan pun disiapkan. Pemimpin yang ditunjuk? Pati Unus — putra mahkota sekaligus Adipati Jepara yang saat itu masih berusia 25 tahun.
---
PERSIAPAN EKSPEDISI BESAR
Pati Unus tahu betul bahwa kekuatan utama Portugis ada pada armada laut dan meriam mereka. Maka, ia pun menghidupkan kembali kejayaan armada laut Majapahit yang telah lama tertidur.
Kapal-kapal besar dibangun di galangan Semarang dan Jepara dengan bantuan para perajin Muslim Tionghoa. Bahkan, kabarnya kapal-kapal ini dibuat selama tiga tahun lamanya! Beberapa di antaranya terinspirasi dari kapal model Ta Chih buatan Aceh.
Persenjataan pun tak kalah canggih. Kapal-kapal Demak dilengkapi dengan cetbang — meriam isian belakang (breech loader) andalan armada Majapahit.
---
ARMADA RAKSASA MENYEBRANG LAUT
Pada akhir 1512 hingga Januari 1513, armada laut terbesar yang pernah Nusantara kirimkan pun berlayar dari Jepara menuju Malaka. Jumlahnya? 100 kapal dengan 5.000 prajurit Jawa. Belum lagi tambahan pasukan dari Palembang yang membuat total kekuatan mencapai 12.000 personil!
Armada ini terdiri dari berbagai jenis kapal perang:
● Kapal Jong — kapal layar besar berbobot ratusan ton, seperti "kapal induk" zaman kuno
● Lancaran — perahu dengan satu hingga tiga tiang yang juga bisa didayung
● Penjajap — kapal kargo yang diubah menjadi kapal perang bersenjata meriam
---
KAPAL RAKSASA YANG MENGGEMPARKAN
Tapi tunggu, ada yang paling istimewa dari armada ini! Pati Unus membawa satu kapal jung raksasa yang bobotnya mencapai 1.000 ton — ukuran yang luar biasa pada zamannya!
Kapten armada Portugis, Fernão Peres de Andrade, sampai menulis surat tentang kapal ini. Ia mengatakan bahwa jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang pernah dilihat orang-orang di wilayah ini. Kapal ini membawa seribu orang tentara!
Yang lebih mencengangkan: meriam-meriam Portugis sama sekali tidak mampu menembus lambung kapal di bawah garis air. Konon kapal ini memiliki tiga lapis besi setebal satu koin di setiap lapisannya. Bayangkan, teknologi perkapalan Nusantara sudah secanggih itu di abad ke-16!
---
PERTEMPURAN SENGIT DI SELAT MALAKA
Sesampainya di Malaka pada Januari 1513, armada Demak langsung menggempur benteng Portugis. Pertempuran sengit pun terjadi di Selat Malaka.
Namun, Portugis sudah bersiap. Mereka memiliki benteng pertahanan yang kokoh dan persenjataan yang lebih unggul. Serangan Demak pun gagal. Dalam pertempuran ini, sekitar 60 kapal Demak hancur dan 800 prajurit gugur.
Pati Unus terpaksa kembali ke Jawa dengan kekalahan pahit. Namun, sekalipun kalah, ia tidak patah semangat! Ia mendamparkan kapal perang besarnya di pantai sebagai monumen perjuangan melawan musuh yang disebutnya "paling berani di dunia".
---
MENGAPA DIJULUKI PANGERAN SABRANG LOR?
Kegagalan di medan perang justru mengantarkan Pati Unus pada tahta Kesultanan Demak. Pada tahun 1518, setelah Raden Patah wafat, Pati Unus naik takhta.
Dan pada tahun 1521, ia kembali memimpin ekspedisi kedua ke Malaka — kali ini dengan 375 kapal! Namun nasib berkata lain. Dalam pertempuran itu, Pati Unus gugur di medan perang.
Karena keberaniannya menyeberangi Laut Jawa ke utara (Malaka) untuk melawan Portugis, rakyat memberinya gelar "Pangeran Sabrang Lor" — yang berarti "Pangeran yang Menyeberang ke Utara". Ada juga yang mengartikan "Pangeran yang Gugur di Seberang Utara". Sebuah julukan yang lahir dari pengorbanan dan keberanian luar biasa!
---
📖 GLOSARIUM / DAFTAR ISTILAH
● Pangeran Sabrang Lor: Julukan Pati Unus; sabrang = menyeberang, lor = utara. Artinya "Pangeran yang Menyeberang ke Utara"
● Kesultanan Demak: Kerajaan Islam pertama di Jawa (1475–1554 M) yang berdiri di pesisir utara Jawa
● Adipati Jepara: Gubernur atau penguasa wilayah Jepara di bawah Kesultanan Demak
● Jong / Jung: Kapal layar besar tradisional Nusantara, berbobot ratusan hingga ribuan ton
● Cetbang: Meriam isian belakang (breech loader) khas Nusantara, senjata andalan armada Majapahit dan Demak
● Lancaran: Perahu layar dengan satu hingga tiga tiang, bisa juga digerakkan dengan dayung
● Penjajap: Kapal kargo yang diubah menjadi kapal perang, bisa dipersenjatai meriam
● Bombard: Meriam besar Portugis yang menembakkan peluru batu atau besi
● Esfera: Jenis meriam besar Portugis untuk pertempuran laut
● Afonso de Albuquerque: Laksamana dan gubernur Portugis yang memimpin penaklukan Malaka tahun 1511
“Mohon keikhlasannya untuk terus mendoakan A Eril.”
Hari itu, Sabtu (28/5) Bu Cinta, panggilan akrab untuk Atalia Praratya, istri dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menulis kalimat yang membuat kita semua patah hati. Putera sulungnya, Emmeril Khan Mumtadz, dinyatakan hilang setelah hanyut di Sungai Aare, Bern, Swiss, pada Kamis (26/5) sore waktu setempat.
Saat itu Eril berenang bersama adik perempuannya, Zara, dan seorang teman. Sebelum terseret arus deras, Eril berusaha menolong adik dan sahabatnya agar sampai ke tepian sungai dengan selamat. Tetapi malang, justru Eril tak bisa menahan arus deras yang datang tiba-tiba. Konon, ia sempat berteriak minta tolong, tetapi kemudian menghilang cepat ditelan arus.
Polisi sungai, tim SAR dan pemadam kebakaran setempat pun dikerahkan, jumlahnya hingga 20 orang. Warga setempat berusaha menolong juga. Tapi hingga petang tiba Kamis itu, Eril tak kunjung ditemukan. Bahkan hingga hari ini, Senin (30/5), hampir lima hari kemudian, setelah pencarian dalam skala lebih besar dan intensif dilakukan, belum ada kabar baik yang menunjukkan tanda-tanda putera sulung Pak RK itu ditemukan.
Kabar duka ini menyebar cepat di tanah air. Semua media memberitakan hilangnya putera sulung Pak RK dan Bu Cinta itu. Semua berduka, menyampaikan belasungkawa dan berdoa untuk keselamatan Eril. Seolah-olah Eril adalah bagian dari keluarga kita, anak sulung kita, kakak kita, adik kita, keponakan kita, cucu kita. Kita tahu ini berat untuk Kang Emil dan Bu Cinta. Begitu berat.
“Mohon keikhlasannya untuk terus mendoakan A Eril.”
Saya membayangkan betapa berat Teh Atalia menuliskan kalimat itu di bio akun instagramnya. Bagaimana hancurnya hati seorang ibu yang kehilangan putera sulungnya yang sangat ia cintai dan banggakan. Bu Cinta pun mengganti gambar profil di akun media sosialnya: Sebuah foto saat ia sedang tersenyum kala dicium puteranya yang gagah itu. Ini ekspresi kesedihan yang begitu dalam dari seorang ibu.
Kabarnya, saat kejadian, Bu Cinta juga berada di pinggir sungai. Menunggui putera dan puterinya berenang. Ya Allah, bagaimana perasaannya ketika itu? Saat tahu putranya hilang? Saya membayangkan ia berlari kesana kemari meminta pertolongan, sambil menahan deras sungai di kedua matanya, sementara ada lubang besar yang tiba-tiba menganga di hatinya… Kisah ini saya dengar langsung dari sahabat saya, Kang Elpi, adik kandung Kang Emil, pamannya Eril.
Dan lima hari kata ‘Eril’ menjadi ‘trending topic’ di Twitter. Jutaan doa mengalir, ribuan tangis pecah, kata-kata yang berusaha menguatkan hati Bu Cinta dan Pak RK tak terhitung lagi. Saya membaca salah satu di antara kata-kata itu: “Our broadcaster of daily happiness is grieving.” Tulisnya. Penyiar kebahagiaan harian kita sedang berduka, katanya, disertai tangkapan layar bio Twitter Kang Emil yang menyebut dirinya ‘Broadcaster of Daily Happiness’.
“Mohon keikhlasannya untuk terus mendoakan A Eril.”
Sejak hari itu, Kang Emil belum membuat satu pun posting atau ‘story’ di akun instagramnya. Diamnya begitu sempurna menggambarkan kesedihan seorang ayah. Biasanya Kang Emil penuh keceriaan, tak jarang ia mengunggah video atau status lucu yang menghibur ‘follower’-nya. Kini sang Penyiar Kebahagiaan Harian sedang bersedih.
Namun, Pak RK adalah seorang ayah yang tegar. Saat ia diberitahu musibah yang menimpa Eril, Kang Emil masih di tengah-tengah sebuah acara di London, Inggris. Ini yang saya dengar langsung dari Bima Arya, Walikota Bogor: “Di sana kualitas pribadi seorang Kang Emil bisa kita lihat benar-benar luar biasa. Rasionalitas dan pertimbangan logisnya jalan. Kita tahu, dari London ke Bern membutuhkan waktu berjam-jam, tak akan begitu menolong situasi yang ada. Sehingga Kang Emil memutuskan untuk tetap memilih melanjutkan acara. Bahkan konon masih menuntaskan tiga agenda lagi berikutnya di London, setelah itu baru ke Bern menemui keluarganya.” Cerita Kang Bima.
Saya melongo mendengar cerita itu. Teringat sehari sebelumnya mendapatkan video amatir warga Indonesia di London yang merekam Kang Emil yang masih melayani foto-foto warga Indonesia di sana seusai acara, padahal ia tahu anaknya mengalami musibah hebat. Di video itu Kang Emil masih berusaha tersenyum saat melayani permintaan foto ‘selfie’. Meski matanya tak bisa berbohong. Mata seorang ayah yang cemas dan sedih, sekaligus barangkali merasa bersalah.
“Kalau kita jadi Kang Emil, nggak akan kuat itu, Fahd.” Kata Kang Bima. “Mungkin kalau kita udah buru-buru aja jalan, nangis kejer di mobil. Atau ke hotel shalat dan berdoa habis-habisan. Tapi Kang Emil rasionalitasnya jalan. Dia tergar. Terus menjalankan tugas sambil menata hati. Luar biasa.” Sambungnya.
“Mohon keikhlasannya untuk terus mendoakan A Eril.”
Hari ini (30/1) saya dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta ketika menuliskan semua ini. Ada lubang yang menganga di hati saya. Saya baru saja menemui Kang Elpi dan keluarga Kang Emil untuk melakukan doa bersama. Ustadz Adi Hidayat menitip sebuah doa yang diambil dari al-Quran surat al-An’am ayat 59 untuk dibaca bersama-sama oleh keluarga.
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padaNya, tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS Al-An’am 59)
Ayat itu dibaca berkali-kali saat doa bersama, termasuk oleh anak-anak yatim yang diundang pihak keluarga. Tubuh saya gemetar ketika mendengar semua itu. Dua kelopak mata saya menahan deras sungai Aare yang dingin. Sudah lima hari Eril belum juga ditemukan. Tapi Allah tahu di mana Eril; ia dalam penglihatan dan pengetahuan-Nya. Menurut Dubes Swiss Muliaman Hadad, 99.9% dari kasus orang hilang di Sungai Aare akan ditemukan dalam kurun waktu 3 hari hingga 3 minggu.
“Keluarga ikhlas dengan apapun ketetapan terbaik dari Allah. Tapi kami berdoa semoga Eril bisa ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga.” Ujar Kang Elpi lirih. Saya memegang pundaknya, berusaha menguatkan. “Allah tahu yang terbaik, Kang.” Ujar saya.
“Mohon keikhlasannya untuk terus mendoakan A Eril.”
Foto Pak RK dan Bu Cinta yang sedang terus mengawasi pencarian puteranya beredar sejak kemarin. Keduanya tampak tegar, meski kita bisa mengerti kesedihan besar yang sedang mereka rasakan.
Seandainya kita adalah Pak RK dan Bu Cinta, mungkin kita tak akan sekuat itu. Tak bisa. Tapi Allah memang tak akan menguji hamba-hambanya di luar kemampuan mereka menanggungnya. Saya percaya Kang Emil dan Teh Atalia akan kuat. Semoga Allah tolong dan selalu lindungi.
Mari kita terus mendoakan A Eril. Malam ini saya teringat putera sulung saya dan ingin segera sampai rumah untuk mendekapnya. Eril adalah seorang anak, seperti anak kita. Seorang kakak, seperti kakak kita. Keponakan yang dibanggakan pamannya, seperti keponakan kita. Cucu kesayakan neneknya, seperti cucu kita.
Di perjalanan, sebuah notifikasi muncul di layar handphone saya. Posting baru dari Kang Emil, ia menulis dengan tulisan tangan, “Mohon doanya, pencarian ananda Eril masih terus dilakukan. Semoga Allah SWT memudahkan ikhtiar ini. Aamiin YRA.”
Kawali adalah sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Ciamis Jawa Barat yang terletak 11 Km ke sebelah utara. Kota ini sudah berusia cukup tua dan di masa lalu pernah memiliki peran yang sangat penting di tatar Sunda karena sempat menjadi ibukota Kerajaan Sunda-Galuh.
Asal-usul Kawali Ciamis
Nama Kawali konon berkaitan dengan kisah ciung wanara maupun Kerajaan Galuh yang dimuat dalam sumber naskah maupun tradisi lisan masyarakat Galuh. Sumber naskah yang memuat cerita i
Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa Raja Bojong Galuh (palsu) yaitu Ki Bondan menyuruh seorang pandita sakti bernama Ki Ajar Sukaresi untuk menaksir bayi yang dikandung oleh istrinya, Nyai Ujung Sekarjingga, apakah laki-laki atau perempuan.
Padahal sebenarnya raja hendak menipu si pandita karena besarnya perut Nyai Ujung Sekarjingga bukan disebabkan karena sedang hamil, melainkan karena kuali yang ditaruh di dalamnya. Dan sang pandita kemudian menjawab bahwa anak yang sedang dikandung itu laki-laki.
Raja tentu saja tertawa. Dia pun mengejek sang pandita sebagai seorang penipu. Namun ketika pakaian Nyai Ujung Sekarjingga dibuka, ternyata kuali yang dipasang di perutnya tidak ada dan ia benar-benar mengandung.
Sang Raja menjadi malu dan marah menyaksikan kejadian itu. Ki Ajar pun disuruh pulang, namun diam-diam ia memerintahkan patihnya untuk mengikuti dan membunuh sang pandita.
Taman Surawisesa Kawali Ciamis<script type='text/javascript' src='//affluentmirth.com/8f/05/1e/8f051eb5e47b968f5a3e319a0da9bc6c.js'></script>
Sebenarnya yang terjadi Kuali pada perut Nyai Ujung Sekarjingga ditendang oleh kekuatan rohaniah Ki Ajar. Kuali itu kemudian jatuh di Kampung Selapanjang. Karena peristiwa tersebut namanya kemudian diganti menjadi “Kawali”.
Adapun anak laki-laki Nyai Ujung Sekarjingga kemudian lahir dan diberi Ciung Wanara.
Konon, tempat jatuhnya kuali itu menjadi mata air dan kolam yang disebut “Balong Kawali” atau “Cikawali”. Saat ini Cikawali termasuk dalam lingkungan Situs Astana Gede Kawali.
Selanjutnya, Ki Ajar Sukaresi yang hendak pulang ke petapaannya di Gunung Padang diserang oleh utusan raja sehingga terluka parah.
Dengan tubuh penuh luka, sang pandita terus berjalan. Dalam perjalanannya tersebut, di suatu tempat lukanya mengeluarkan darah berwarna kuning. Tempat tersebut kemudian disebut “Cikoneng”, kini sebuah kota Kecamatan di Ciamis bagian barat.
Lukanya terus mengeluarkan darah sehingga membuat ki Ajar semakin lemah. Di suatu tempat, ia jatuh dan tergolek di atas tanah. Tempat ia tergolek itu kemudian disebut “Cikedengan”.
Ia kemudian berjalan lagi, tetapi jatuh lagi dan mengeluarkan darah yang berwarna bening. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama “Ciherang”. Akhirnya, sampailah Ajar Sukaresi di pertapaan di Gunung Padang dan meninggal.
Muncul Pada Abad XIV
Lokasi kota tersebut dinilai strategis, karena berada di tengah segitiga pusat-pusat kekuasaan di wilayah timur saat itu yaitu Galunggung, Saunggalah dan Galuh.
Bahkan tercatat dua orang Raja Sunda-Galuh dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).Raja pertama yang diketahui bertahta di Kawali adalah Prabu Ajiguna Wisesa yang memerintah tahun 1333 – 1340.
Namun patut diduga, raja sebelumnya, yaitu Prabu Linga Dewata juga sudah berkedudukan di Kawali Ciamis. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 (saat Sri baduga memindahkan pusat pemerintahan ke Pakuan) adalah Jaman Kawali.
Nama Kawali disebut pada dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Niskala Wastukancana yang tersimpan
Prasasti tersebut menyebut “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan “nu ngeusi bhagya Kawali” (yang mengisi Kawali dengan kebahagiaan). Berikut bunyi kedua prasasti secara lengkap
(yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit (pertahanan) sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan (memajukan pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Prasasti Kawali 2:
Aya ma nu ngeusi bha- gya kawali ba- ri pakena kere- ta bener pakeun na(n)jeur na juritan.
[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang]
.
Naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh Kai Raga dari Srimanganti – Cikuray juga menyebut nama Kawali yang diistilah sebagai “dalem si pawindu hurip” atau keraton yang memberikan ketenangan hidup. Cuplikan dari Carita Ratu Pakuan tersebut, sebagai berikut:
Dicaritakeun Ngambetkasi Kadeungeun sakamaruan Bur payung agung nagawah tugu Nu sahur manuk sabda tunggal Nu deuk mulih ka Pakuan Saundur ti dalem timur Kadaton wetan buruhan Si mahut putih gede manik Maya datar ngaranna Sunijalaya ngaranna Dalem Sri Kencana Manik Bumi ringit cipta ririyak Di Sanghyang Pandan Larang Dalem si Pawindu Hurip
Kawali Ciamis sebagai pusat pemerintahan Sunda ditegaskan pula didalam Pustaka Nusantara II/2. Dalam naskah tersebut ditulis:
Katatwa pratista Sang Prabu Wastu Kancana haneng Surawisesa kadatwan. Pinaka kithagheng rajya Kawali wastanya. Ring usama nira mangadeg dumadi mahaprabu rikung juga
(Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ).
Melahirkan Raja-raja Besar
Dalam sejarahnya, Kawali Ciamis telah melahirkan raja-raja besar yang memerintah tatar Sunda-Galuh. Mereka yaitu, Prabu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Jaya Dewata (Prabu Siliwangi atau Sribaduga Maharaja).
Prabu Lingga Buwana dalan Naskah Carita Pasundan disebut juga sebagai Prabu Maharaja. Beliau gugur dalam peristiwa Bubat ketika mengantar putrinya Dyah Pitaloka menikah dengan Prabu Hayam Wuruk di Majapahit.
Keberaniannya mempertahankan kehormatan diri selalu tersimpan di hati orang Sunda sehingga ia dikenal dengan Prabu Wangi.
Isi dari Fragmen dalam naskah Carita Parahyangan adalah sebagai berikut:
Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina. Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.
Prabu Niskala Wastu Kancana adalah putera dari Prabu Lingga Buana. Ketika peristiwa Bubat terjadi ia baru berumur sembilan tahun sehingga tidak ikut rombongan Sunda ke Majapahit.
Karena pewaris tahta masih belum cukup umur, sementara pemerintahan Galuh dipegang oleh Rahyang Bunisora, adik Prabu Linggabuwana.
Bunisora dikenal sebagai raja yang alim dan taat agama. Penulis Carita Parahyangan memberi gelar Satmata, yakni gelar keagamaan tingkat kelima dari tujuh tingkat keagaaman yang dianut penguasa Sunda waktu itu.
Kepemimpinannya yang bijak dan adil mampu membawa kerajaan Galuh melewati masa-masa yang sulit pasca gugurnya Prabu Linggabuwana beserta para pembesar kerajaan yang mengiringi perjalanan sang prabu ke Majapahit.
Dibawah bimbingan Bunisora, Niskala Wastu Kancana tumbuh menjadi raja bijaksana dan membawa Kerajaan Sunda-Galuh mencapai jaman keemasan.
Masyarakat Sunda mengenangnya melalui ajaran atau nasehat yang ia berikan yang diabadikan pada prasasti Kawali yang dikenal dengan Wangsit Niskala Wastukancana. Ia dikenal juga dengan dengan sebutan Prabu Wangisutah.
Keagungan Prabu Niskala Wastu Kancana diceritakan dalam Fragmen Carita Parahyangan sebagai berikut:
Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.
Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.
Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.
Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.
Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.
Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.
Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.
Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.
Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.
Selanjutnya adalah Jayadewata yang setelah dinobatkan sebagai raja Sunda disebut Sri Baduga Maharaja. Meski bertahta di Pakuan Pajajaran, beliau lahir dan besar di Kawali Ciamis.
Jayadewata adalah tokoh yang paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi dengan nama Prabu Siliwangi. Ketika muda ia lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala atau cucu Niskala Wastukancana.
Jayadewata mewarisi tahta Galuh dari ayahnya Prabu Dewa Niskala. Ia juga mewarisi tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya Prabu Susuk Tunggal.
Gelar Sri Baduga Maharaja ia peroleh karena menjadi penguasa di dua kerajaan utama di Jawa Barat, yakni Sunda dengan Galuh.
Kisah Jayadewata di tulis didalam Fragmen Carita Parahyangan adalah sebagai berikut:
Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilupuluhsalapan taun.
Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.
Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.
Sayang, pemerintah Kabupaten Ciamis nampaknya belum mengelaborasi ketiga tokoh tersebut sebagai identitas Ciamis. Sebagai contoh kecil, kecuali Siliwangi, tidak ada nama jalan tokoh-tokoh besar tersebut di Ciamis kota
Jalan Usaha Tani di Cipaku Ciamis, Tawarkan Keindahan Pesawahan
“Menariknya lagi di tempatya ini di tengah-tengahnya ada kebun, sehingga banyak juga yang menyebutnya Sawah Nusa,” katanya.
Emus menambahkan, dengan suasana pemandangan alamnya itu, Jalan Usaha Tani di Blok Sawah Lega jadi pilihan anak-anak muda untuk berfoto.
“Mudah-mudahan saja ke depannya bisa menjadi destinasi wisata, sehingga bisa menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (Pades). Sebab, sawah atau tanahnya ini merupakan tanah bengkok Desa,” tandasnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar