“Tapi dengan bertahannya lo, gue jadi memiliki peran ja hat di sini,” ungkap Kanaya.
“Lalu saya harus bagaimana?”
Kanaya terdiam, pertanyaan Sabiru membuat d* da nya sesak.
"Lo harus cari kebahagiaan lo sendiri!" ucap Kanaya Kemudian.
"Saya sudah bahagia kok. Emang saya kelihatan tidak bahagia ya?" tanya Sabiru.
"Bahagia dari mana?" tanya balik Kanaya dengan nada tidak percaya. "Lo hidup dengan wanita yang gak berguna, yang gak pernah punya effort layaknya istri pada suami. Lo jelas capek dan bahkan mungkin hidup lo lebih se ng sa ra dengan hadirnya gue."
"Hidup saya tidak se ng sa ra, apalagi dengan hadirnya kamu di hidup saya membuat saya lebih semangat menjalani hidup." Kalimat sederhana yang membuat ra ha ng Kanaya mengeras.
"Gue bukan anak kecil yang bisa lo ke la bu hi dengan kalimat penenang seperti itu."
"Saya tidak meng ke la bu hi kamu, tapi kenyataannya memang seperti itu. Hadirnya kamu, membuat saya semangat bangun pagi untuk menyiapkan makanan. Saya semangat mencari rejeki untuk memberikan hidup yang layak untuk kamu meski tidak mewah. Hidup dengan kamu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Kamu adalah anugerah buat saya," jelas Sabiru.
"Lo terlalu baik untuk hidup dengan wanita seperti gue, Bi. Gue gak bisa disetarain dengan kesempurnaan yang lo punya."
"Saya tidak sempurna dan saya juga tidak ingin menikahi wanita yang sempurna. Saya menikahi kamu, Nay. Wanita yang memang saya pilih untuk bisa mendampingi hidup saya." Lagi lagi kalimat yang diucapkan Sabiru mampu menggetarkan sesuatu di dalam sana. Rasanya sulit bisa Kanaya artikan.
"Dengan lo seperti ini, membuat gue semakin merasa bersalah, Bi." Kanaya membuang pandangannya.
"Saya tidak pernah ada niatan membuat hidup kamu di kelilingi rasa bersalah."
"Gue selalu nyakitin lo, gue selalu bikin lo kecewa, gue bahkan gak bisa bales perlakuan mau pun perasaan lo. Tapi lo tetap aja baik sama gue."
"Iya, saya tahu."
"Lalu?"
"Kalau kamu merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan saya, berhentilah!" ucap Sabiru tenang.
"Maksudnya?"
"Saya tidak pernah menganggap perasaan saya terhadap kamu sebagai u ta ng yang perlu kamu ba yar." Kanaya mengernyitkan dahinya, tapi tetap mendengarkan penjelasan Sabiru. "Saya mencintai kamu karena mau saya sendiri."
"Yakin lo gak berharap cinta lo terbalaskan?" tanya Kanaya penasaran.
"Bohong kalau saya tidak berharap kamu bisa mencintai saya suatu saat nanti, tapi saya juga sadar diri bahwa hati manusia tidak bisa dipaksa. Untuk saat ini, biarkan saya di sini menemani kamu sampai waktu itu tiba."
"Waktu apa?"
"Takdir Tuhan pada saya dan kamu, entah nantinya bersama atau berpisah." Kanaya menatap Sabiru. Ada hati tidak rela ketika Sabiru mengucapkan kata terakhir pada kalimatnya.
"Tapi perlu kamu tahu, hari hari saya begitu ber har ga saya lewati bersama kamu, dari pada hidup tanpa kamu. Saya pernah gagal dalam banyak hal dan kehilangan banyak hal. Tapi harapan saya, mencintai kamu bukan salah satunya. Dari semua yang saya perjuangkan dalam hidup, kamu satu satunya yang tidak akan pernah saya sesali," lanjut Sabiru.
Jantung Kanaya berhenti sejenak, di depannya kini ada lelaki yang memberikan pengakuan ketulusan padanya. Sedangkan selama ini dirinya terus saja mencari cara untuk menjauh.
"Nay, di saat semua orang tidak ada yang memilihmu, bahkan diri kamu sendiri, tolong pergilah ke saya! Saya akan selalu memilih kamu dalam keadaan apa pun," ucap Sabiru lirih dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Ketika Kanaya merasa dirinya tidak ada artinya, Sabiru menyadarkan bahwa dirinya sangat berharga.
"Hadeh . . . Kalau gue jadi lo, mungkin gue udah nyerah dari dulu." Kanaya mencoba kembali cuek, agar tidak terlihat lemah di hadapan Sabiru.
"Untungnya saya bukan kamu, sehingga sampai saat ini saya masih ada di sini."
"Sepercaya diri itu lo dengan apa yang lo lakuin?" tanya Kanaya.
"Saya tidak percaya diri, hanya saja saya percaya pada pilihan saya."
"Oh ya?" Sabiru mengangguk.
"Di saat semua orang meragukan hu bu ngan kita dengan alasan mereka masing masing, saya selalu yakin bahwa pilihan saya tepat."
"Udah cukup!" potong Kanaya kemudian.
"Apanya?"
"Ngobrolnya. Udah malam, besok kerja kan?"
"Iya."
"Ya udah, tidur! Kembali ke kamar masing masing!"
"Kamu marah sama saya?" tanya Sabiru sebelum Kanaya naik tangga.
"Gue harus marah karena apa?"
"Saya juga tidak tahu, makanya saya tanya kamu."
Kanaya memutar bola matanya. "Gue gak marah, gue ngantuk. Puas?"
Sabiru tertawa kecil melihat tingkah Kanaya. "Selamat malam, tidur yang nyenyak ya!"
"Hm," jawab Kanaya sambil terus melangkah menaiki anak tangga. Sedang Sabiru masih setia memandangi kepergian Kanaya. Di pertengahan tangga, Kanaya berhenti dan menoleh, "Bi, makasih ya!" ucapnya kemudian.
"Untuk?" tanya Sabiru.


No comments:
Post a Comment