Adstera

Powered By Blogger

Tuesday, 21 July 2026

Luka yg ku pinjam

 Aku sengaja tidak memberitahu orang-orang kampung kalau aku adalah kembaran adikku yang sering mereka hina, semua itu kulakukan karena ingin ….




“Ini sudah tanggal dua puluh, kenapa belum bayar utang juga?” Teriakan seseorang di luar sana membuatku berhenti menikmati tidur siang yang adem ini.


“Saya kan janjinya tanggal dua puluh tiga, Bu Rita. Tiga hari lagi saya lunasi.” Suara adik kembarku, Bunga, terdengar begitu lembut dan menyayat hati.


Dari dulu dia tak pernah berubah, selalu saja bersikap begitu baik, sekalipun pada orang yang menjahatinya.


“Nggak bisa begitu. Tanggal dua puluh tiga itu saya sudah belanja ke kota, kalau masih ada yang ngutang, bangkrut dong warung saya!” 


Duh, Tuhan. Itu wanita jelmaan apa ya kira-kira? Mulutnya berisik melebihi TOA yang sering dipakai demo di Ibu Kota.


“Sekali lagi maaf, Bu. Suami saya belum gajian, kalau ada uang dingin pasti saya lunasin sebelum tanggal dua puluh tiga.”


“Awas ya kalau kamu bohong! Kalau sebelum tanggal dua tiga hutangmu masih belum lunas, nanti saya suruh Bu Wiwin buat ngusir kalian dari kontrakan ini!” teriaknya, aku bisa melihat wanita itu berkacak pinggang tatkala mengintipnya lewat celah gorden berwarna hijau terang ini.


“J-jangan, Bu. Saya janji akan melunasinya.”


“Awas saja kalau bohong, ya! Tahu rasa kamu!” Dia menunjuk wajah adikku dengan semena-mena, mendadak hatiku terasa terbakar.


Selepas kegaduhan itu tak lagi terdengar, aku langsung keluar kamar, menghampiri Bunga yang terlihat kuyu.


“Loh, Teh? Katanya mau tidur siang?” tanya Bunga, aku bisa melihat perubahan ekspresinya yang drastis, walau kutahu dia memaksa bibir itu untuk tersenyum supaya terlihat baik-baik saja.


“Itu siapa, sih, Dek? Mulutnya kok melebihi bakso mercon level se—tan?”


“Hehe, itu Bu Rita, tukanv warung di sini. Maaf, ya, Teh. Waktu istirahatnya jadi terganggu, sekarang Teteh bobo lagi, ya. Perjalanan dari Jakarta ke sini ‘kan sangat lah jauh dan melelahkan.”


Aku menggeleng cepat, “Dek, belum semalam Teteh di sini, udah ada tiga orang yang ngomelin kamu. Yang nyuruh pindahin jemuran, lah. Yang nyuruh ini itu lah, sekarang suruh bayar utang.”


Bunga hanya tersenyum tipis mendengar celotehanku, tapi aku bisa melihat pelupuknya yang basah.


“Jujur, Dek. Semua orang di sini merendahkanmu, ya? Semua orang menghinamu, ya?” tebakku, Bunga menggeleng.


“Jangan bohong, Dek! Aku ini kakakmu, tapi kenapa kamu selalu tertutup sama Teteh? Apa salah Teteh? Kamu itu udah gak punya siapa-siapa lagi, seharusnya kita saling membantu!” tandasku panjang lebar.


Bunga tak menjawab, tapi sejurus kemudian dia menghambur ke pelukanku sembari tersedu-sedu.


“Maafkan Bunga, Teh Putik. Bunga cuma gak mau ngerepotin Teteh. Bunga sudah berumah tangga, malu kalau harus mengadu sama Teteh.”


Aku membiarkannya puas menangis, sebelum akhirnya menatap dia lekat-lekat.


“Dengar, Dek. Mau bagaimana pun kita tetap lah kakak beradik, kita satu darah, satu ibu ayah. Kamu juga tanggung jawabku, karena sampai mati pun kamu tetap adikku. Mengerti?” tanyaku, dia pun menganggguk lalu memelukku kembali.


“Jadi, biarkan Teteh membalas perlakuan-perlakuan orang jahat itu.”


“Teteh mau apa?” tanyanya terlihat polos sambil melepas pelukan.


“Kamu duduk manis saja di rumah, Tuan Putri.” Aku tersenyum lebar, tapi Bunga malah terlihat takut.


***


Pagi sekali, aku berjalan menyusuri kampung Rawabungur dengan berpakaian ala adikku sendiri.


Tentu semua orang akan mengenaliku sebagai Bunga, karena wajah kami sama persis bak pinang dibelah dua. Yang membedakan kami hanya nasib serta tahi lalat di punggung.


“Eh, tumben banget pagi-pagi ke warung, Nga?” sapa seorang wanita berusia sekitar 40 tahun, tangannya nampak sibuk memilih sayuran yang dipajang di bagian depan warung.


“Palingan mau ngutang, beras di rumahmu udah habis lagi, ya?” sahut seseorang lagi membuat ibu-ibu di sana cekikikkan.


Aku tak meladeni mereka, melainkan memanggil Bu Rita untuk menghampiriku.


“Apa, sih, Bunga? Mau ngutang lagi, kamu?” katanya galak.


“Nggak, Bu. Malah mau bayar utang. Sebentar.” Aku mengeluarkan dompet panjang dan sengaja membuka isinya lebar-lebar agar semua orang melihat betapa banyak uang di sana.


“Kemarin utangnya berapa, ya?” 


“L-lima puluh ribu,” ucap Bu Rita.


“Ini, ya. Sejuta.” Aku meletakkan uang dengan kasar ke atas bangku kosong, kulihat semua orang langsung melongo.


“Sisanya buat kalian ya, Ibu-ibu. Kalau uang itu gak bisa beli mulut kalian yang dower, pakai saja buat beli terong!” kataku gemas, tapi mereka semua malah mematung.


No comments:

Post a Comment