Adstera

Powered By Blogger

Wednesday, 15 July 2026

Sejarah


 TAHUKAH KAMU? Dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka, ada seorang pangeran dari tanah Jawa yang berani menantang kekuatan kolonial Eropa di lautan lepas. Namanya adalah Pati Unus — putra mahkota Kesultanan Demak yang kemudian dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor. Tapi, mengapa ia dijuluki demikian? Dan apa hubungannya dengan ekspedisi besar melawan Portugis di Malaka? Yuk, kita telusuri kisah heroik yang nyaris mengubah peta sejarah Nusantara ini!

---


AWAL MULA KONFLIK


Tahun 1511, Malaka — bandar dagang tersibuk di dunia — jatuh ke tangan Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque. Jatuhnya Malaka bukan sekadar kehilangan kota, tetapi juga pukulan telak bagi jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Portugis menguasai selat strategis, membuat kapal-kapal dagang takut melintas karena khawatir dirampas.


Sultan Mahmud Syah yang melarikan diri ke Pulau Bintan pun meminta bantuan kepada kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, termasuk Kesultanan Demak. Dan Demak tidak tinggal diam! Di bawah komando Raden Patah, sang sultan, perlawanan pun disiapkan. Pemimpin yang ditunjuk? Pati Unus — putra mahkota sekaligus Adipati Jepara yang saat itu masih berusia 25 tahun.

---


PERSIAPAN EKSPEDISI BESAR


Pati Unus tahu betul bahwa kekuatan utama Portugis ada pada armada laut dan meriam mereka. Maka, ia pun menghidupkan kembali kejayaan armada laut Majapahit yang telah lama tertidur.


Kapal-kapal besar dibangun di galangan Semarang dan Jepara dengan bantuan para perajin Muslim Tionghoa. Bahkan, kabarnya kapal-kapal ini dibuat selama tiga tahun lamanya! Beberapa di antaranya terinspirasi dari kapal model Ta Chih buatan Aceh.


Persenjataan pun tak kalah canggih. Kapal-kapal Demak dilengkapi dengan cetbang — meriam isian belakang (breech loader) andalan armada Majapahit.

---


ARMADA RAKSASA MENYEBRANG LAUT


Pada akhir 1512 hingga Januari 1513, armada laut terbesar yang pernah Nusantara kirimkan pun berlayar dari Jepara menuju Malaka. Jumlahnya? 100 kapal dengan 5.000 prajurit Jawa. Belum lagi tambahan pasukan dari Palembang yang membuat total kekuatan mencapai 12.000 personil!


Armada ini terdiri dari berbagai jenis kapal perang:


● Kapal Jong — kapal layar besar berbobot ratusan ton, seperti "kapal induk" zaman kuno

● Lancaran — perahu dengan satu hingga tiga tiang yang juga bisa didayung

● Penjajap — kapal kargo yang diubah menjadi kapal perang bersenjata meriam

---


KAPAL RAKSASA YANG MENGGEMPARKAN


Tapi tunggu, ada yang paling istimewa dari armada ini! Pati Unus membawa satu kapal jung raksasa yang bobotnya mencapai 1.000 ton — ukuran yang luar biasa pada zamannya!


Kapten armada Portugis, Fernão Peres de Andrade, sampai menulis surat tentang kapal ini. Ia mengatakan bahwa jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang pernah dilihat orang-orang di wilayah ini. Kapal ini membawa seribu orang tentara!




Yang lebih mencengangkan: meriam-meriam Portugis sama sekali tidak mampu menembus lambung kapal di bawah garis air. Konon kapal ini memiliki tiga lapis besi setebal satu koin di setiap lapisannya. Bayangkan, teknologi perkapalan Nusantara sudah secanggih itu di abad ke-16!

---


PERTEMPURAN SENGIT DI SELAT MALAKA


Sesampainya di Malaka pada Januari 1513, armada Demak langsung menggempur benteng Portugis. Pertempuran sengit pun terjadi di Selat Malaka.


Namun, Portugis sudah bersiap. Mereka memiliki benteng pertahanan yang kokoh dan persenjataan yang lebih unggul. Serangan Demak pun gagal. Dalam pertempuran ini, sekitar 60 kapal Demak hancur dan 800 prajurit gugur.


Pati Unus terpaksa kembali ke Jawa dengan kekalahan pahit. Namun, sekalipun kalah, ia tidak patah semangat! Ia mendamparkan kapal perang besarnya di pantai sebagai monumen perjuangan melawan musuh yang disebutnya "paling berani di dunia".

---


MENGAPA DIJULUKI PANGERAN SABRANG LOR?


Kegagalan di medan perang justru mengantarkan Pati Unus pada tahta Kesultanan Demak. Pada tahun 1518, setelah Raden Patah wafat, Pati Unus naik takhta.


Dan pada tahun 1521, ia kembali memimpin ekspedisi kedua ke Malaka — kali ini dengan 375 kapal! Namun nasib berkata lain. Dalam pertempuran itu, Pati Unus gugur di medan perang.


Karena keberaniannya menyeberangi Laut Jawa ke utara (Malaka) untuk melawan Portugis, rakyat memberinya gelar "Pangeran Sabrang Lor" — yang berarti "Pangeran yang Menyeberang ke Utara". Ada juga yang mengartikan "Pangeran yang Gugur di Seberang Utara". Sebuah julukan yang lahir dari pengorbanan dan keberanian luar biasa!


---


📖 GLOSARIUM / DAFTAR ISTILAH


● Pangeran Sabrang Lor: Julukan Pati Unus; sabrang = menyeberang, lor = utara. Artinya "Pangeran yang Menyeberang ke Utara"

● Kesultanan Demak: Kerajaan Islam pertama di Jawa (1475–1554 M) yang berdiri di pesisir utara Jawa

● Adipati Jepara: Gubernur atau penguasa wilayah Jepara di bawah Kesultanan Demak

● Jong / Jung: Kapal layar besar tradisional Nusantara, berbobot ratusan hingga ribuan ton

● Cetbang: Meriam isian belakang (breech loader) khas Nusantara, senjata andalan armada Majapahit dan Demak

● Lancaran: Perahu layar dengan satu hingga tiga tiang, bisa juga digerakkan dengan dayung

● Penjajap: Kapal kargo yang diubah menjadi kapal perang, bisa dipersenjatai meriam

● Bombard: Meriam besar Portugis yang menembakkan peluru batu atau besi

● Esfera: Jenis meriam besar Portugis untuk pertempuran laut

● Afonso de Albuquerque: Laksamana dan gubernur Portugis yang memimpin penaklukan Malaka tahun 1511