Adstera

Powered By Blogger

Tuesday, 21 July 2026

Gairah

 Yang dilihat oleh Pak Frans adalah Rangga yang sedang duduk manis di depan laptop sambil mengerjakan pekerjaannya. 



Pak Frans menutup kembali ruang kerja Zeela yang tak biasanya dikunci. Meskipun hati Pak Frans bergumam dengan kejanggalan yang ada, ia coba menepis semua pikiran bur u k sebab mengetahui kalau karyawan barunya-Rangga adalah adik ipar Zeela.


_____

Pov Rangga


****


Sudah saatnya jam istirahat, pasti Zeela sudah menyelesaikan semua kerjaannya.


Aku Rangga Koesmadji, adik dari seorang Andi Koesmadji. Aku baru saja saling bertatap muka dengan iparku sebab saat kakakku dan istrinya menikah aku tidak bisa hadir. 


Aku kuliah di luar kota dan lumayan cukup menguras biaya kalau aku harus pulang, jadi ... Aku memilih untuk tidak hadir dan hanya memberi selamat dan menyaksikan acara pernikahan kakakku lewat video call aku bersama dengan Ibu.


Tapi, saat aku melihat Zeela dari sana. Entah mengapa jan tungku berdebar, kenapa aku memiliki rasa iri pada kakakku sendiri saat ia menikahi wanita secantik Zeela. 


Aku bisa saja tidak pulang setelah aku selesai wisuda dan memilih untuk kerja disini, tapi entah mengapa aku selalu terngiang dengan Zeela. Aku mencari sosial medianya dan aku selalu melihat unggahan fotonya yang memang ia selalu saja menampakkan keindahan tubuhnya dengan pakaiannya yang ketat.


Tubuhnya yang sintal, wajahnya yang bin4l terlihat begitu meng gair ahkan sehingga jant ungku berdebar dan hasr atku menggebu serasa aku ingin memilikinya.


Aku akhirnya memilih pulang, saat kesempatan ada padaku. Mas Andi sakit, dan aku ditawarkan bekerja di tempatnya. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.


.


"Siang Zee... Udah selesai?" Aku menghampiri Zeela yang masih berkutat dengan kerjaannya.


Wajahnya sangat lelah, namun tidak dapat mengalahkan kecantikannya.


Aku sudah bertahun-tahun mengikuti sosial medianya, dan terus memperhatikan iparku itu.


"Belum, Ga, masih banyak!" sahutnya tanpa menoleh.


Ku dekati dirinya dan duduk di atas meja, ia menatapku dan hendak men ce rcaku. Namun sebelum ia bisa bicara mulutnya sudah lebih dulu ku sumpal dengan mulutku.


Sumpal... Iya itulah pokoknya, biar nambah kesan manis di b ibir Zeela.


"Rangga, apa-apaan sih?"


"Aku kangen, Zee."


"Iya... Tapi ini di kantor." tanpa mendengar pen ola kan aku meraih tangannya dan membawanya ke sofa samping meja kerjanya.


Disana aku terus mel anc arkan aksiku, mencivm bi bir Zeela dan terus bermain dengannya.


Tok... Tok... Tok...!


 "Zeela... Ini saya, Frans. Diluar ada suami kamu!" teriak seseorang sambil mengetuk pintu ruangan.


Tok.. Tok...Tok...!


"Zeela, apa kamu ada di dalam?"


"Rangga itu Pak Frans!"


"Sudahlah biarkan aja, lagian ada apa dia kesini? Mengganggu saja!"


Zeela melepaskan diri dari rengkuhanku, ia merapikan kembali pakaiannya. Menggusar rambutnya yang tergerai panjang, dan berlari kecil menuju pintu.


'Ada saja gangguannya, nggak tahu apa orang lagi mesra-mesraan!' rutukku dalam hati.


Aku merapikan kembali pakaianku dan duduk di meja kerjaku sambil mengambil sebuah laporan dan aku kerjakan untuk mengalihkan kekesalanku.


Hanya samar-samar ku dengar obrolan Zeela dan bos kami, namun aku sedikit mendengar jika Mas Andi ada di sini.


"Mau apa Mas Andi kesini? Apa biasanya dia ke sini?" gumamku.


Tidak berselang lama... Zeela datang tapi bersama dengan Mas Andi yang meminta ijin pada bos kami untuk ikut masuk ke ruangan Zeela.


Ah...! Hatiku semakin berdec ak kes al saat aku melihat Mas Andi mera ngk ul Zeela masuk ke dalam ruangan.


"Mas... Kok datang ke kantor? Biasa begini, ya?" tanyaku.


"Tidak, aku hanya ingin saja sesekali berkunjung. Sekalian melihat kamu bekerja. Aku juga sudah memasakkan makan siang untuk kalian berdua." jawab Mas Andi tersenyum ramah. Ia selalu begitu, hampir tak pernah ku lihat di raut wajahnya wajah kes al. Selalu senyum dan sangat ramah tamah.


Sial! Renc ana ku, aku ingin mengajak Zeela makan disebuah kafe. Tapi Mas Andi menggagalkan rencanaku.


Zeela melirikku pelan-pelan, seperti yang tahu persis kalau aku merasa tidak nyaman saat ada Mas Andi di ruang kerja.


Apa lagi Mas Andi tak pernah melepaskan tubuh Zeela dan tetap dirangkulnya. Berbicara saling tatap muka dan bahkan Zeela sesekali mengusap peluh di dahi Mas Andi.


"Kamu kok keringetan, Mas? Padahal ruangannya AC, loh... Kamu pasti kecapean karena maksa kesini." ujar Zeela perhatian pada Mas Andi.


Wajar, sih kalau Mas Andi dapat perhatian dari Zeela, dia kan istrinya. Tapi kenapa merasa aku yang ses ak dan tak terima, aku ingin kalau Zeela menjadi milikku saja.


"Mas, kalau emang belum pulih jangan maksain kesini. Entar kalau kenapa-kenapa gimana? Kan Mbak Zeela juga yang repot." kataku yang membuat Mas Andi menoleh kearahku.


"Iya, sesekali nggak masalah. Aku ingin memberikan perhatian pada istriku." sahutnya.


Ah...! Tak usah! Aku yang akan memperhatikannya. Aku jadi geram sendiri dan men ge pal tanganku dengan kencang dan rasanya ingin ku tonj ok saja wajahnya yang sok tampan itu.


Cih...! Dia sudah tua, walaupun hanya berbeda 5 tahun denganku. Tapi dia masih tampan, aku pun tak kalah tampan dan lebih ga gah dari pada dia. Apa lagi dia sudah pe nyak itan. Aku harus membuat Zeela jatuh cinta padaku dan melupakannya.


"Ooh iya, kamu lagi ada kerjaan ya? Kok jam segini ada di ruangan Zeela?"


Deg!


No comments:

Post a Comment